Showing posts with label Poem. Show all posts
Showing posts with label Poem. Show all posts

26 November 2016

Pada Hari Kelahiranku

Pada hari kelahiranku
Aku menanggung haru harum kasturi dan nista duri,
Bersimpuh pada pundak antara dua sayap malaikat
Berkegeyantangan, bergaul dua warna dari dua lautan berbeza

Waktu semalam dan masa depan
Bersempadan angka pada hari ini
Antara karang-karang tegar yang kuinjak
Dan beribu lagi langkahku menuju cakerawala

Aneh sekali, dalam tahun keduapuluhtujuhku beredar berkeliling mentari,
Kau juga masih satunya yang kugemari
Kau juga satunya keindahan yang pernah kumiliki

Pada hari kelahiranku,
Aku menghitung berapa hayatku telah berlalu di muka bumi
Dan berkira akan tiba ajalku berapa lama lagi.

29 October 2016

Memori Basah Hujan

Hujan merangkulku
Memori dalam pantulan
Sepi dalam kedinginan
Bergulir-gulir ke lubuk kelong;
rasa basah




Bau rumput yang ditimpa hujan
padang yang telah rindu didakap kelembapan
Mengungkap bahasa cinta alam, bermain di kelopak runcing bunga dan dedaunan gersang




Ini mimpi silam sebuah zaman bahagia
Bila redup awan merundung cahaya suria
Wajah pucat pasi dititis air langit
Lecah di kaki; lumpur di kulit.



Bahtera Cinta

Layar merah jambu
Kain baldu di belikatmu,
Lepas terus berkibar, dipuput bayu.


Aku, sang pencinta yang cemburu.


Kau berlayar, meninggalkanku di penanti
Antara cahaya yang menjalur semusim pagi
Membakar panahan di mata kaca,
Menggulung cinta di ombak sepi.


Tiba harinya camar kembali ke pantai
Kau masih belum mengerti, betapa telah aku terlewat
Mengisi hari-hariku, menantimu, belum pernah kembali
Menyisir cinta, merincih sunyi, biar lupus digelung mimpi.


Sepertinya kau tidak akan menepi,
Kau - tidak pernah mengerti.





Bedaduz
Seminar Bahtera Cinta, Universiti Malaya
29 Oktober 2016





18 October 2016

Kata kau pulang

Kata kau pulang, menghinggap di jendela. Dari kaca berbalam, pancaran ungu menusuk terus ke atas birai dan tilam.


Desa ini telah lama beradu, menunggu tibamu. Asyik, senyummu kugumpal lalu kubiar kata terus terkubur. Mari, kita rasai hati tanpa sebarang bicara.


Dari pergantungan penjuru bilik, angin surut dari putaran bilah di bumbung.


Bila kau menangis, tiada lebih indah bila kau perlukan aku untuk menghiburmu. Maka aku lakarkan kisah perdu dusun-dusun, sebuah desa di sebalik gunung dan layangan langsir merah jambu membelai wajahmu


Rindu yang membawamu kembali, telah lama mencengkam dadaku.


Jangan pergi lagi, bila sebuah lagi lembaran kita singkap. Kau terbang sewaktu senja mula melabuh, terus ke hujung horizon rata. Aku tutup jendela perlahan-lahan, di sebalik kaca gelap, mataku berkaca.


Terbanglah kau kasih, masakan bisa kumengurung sepasang sayap bidadari.

17 October 2016

Dua Uncang Teh


Dua uncang teh, menari dalam kole
Tali uncangnya menambat ke sudu besi
Betapa lucu, kelat air tehnya – hitam

Kau dan aku, dua uncang teh menari dalam kole
Tali hidup kita terikat ke takdir sendiri
Tambahkan susu – kelak kita tahu, hitam bukan selamanya sepahit jadam

Dua uncang teh, menari dalam kole,
Buat penghibur fikirku di malam hari
Biarkan pekatnya melarut, sehitam malam.

08 October 2016

Sesaat Lagi

Kilauan rindu berarak, berlapisan ke syurga ketujuh
Gema gempita dari langit menurutku untuk bertingkah
Antara lindap yang mencengkam mimpi, menggumpal jiwa kepada awan-awan malang,
Merundung jendela terbuka, menggenggam wujudmu dariku

Izinku merangkul tubuhmu ke dalam jasadku
Biar mimpi yang meresap ke sanubari, menjadi hakikat
Sedang kumengucap sebuah harap di jurang hamparan rindu
Mengimpi kau akan terus mampir, mendekat

Waktunya kita bertemu, terlewat – senjanya telah menjadi malam
Mimpiku yang kusimpan untuk masa depan, dibunuh cintamu yang kaubawa dari masa silam
Kalau kita bertemu lebih awal dari detik kau merelakan hatimu kepadanya,
Mahukah kau duduk di sampingku kini, menyulam masa depan denganku?

Tinggallah lagi denganku, satu jam lagi. Jika itu terlalu panjang untukmu, sesaat buatku sudah memadai
Berikan aku satu saat lagi, untukku ucapkan selamat tinggalku.
Apa yang kau kejarkan, sedang hujan di luar masih renyai?
Satu hari nanti juga, kau akan pergi terbang jauh dariku
Cukuplah untuk masa yang sekejap ini, memegangmu erat – aku rasa bagai kau milikku.  



29 September 2016

KL ke Konya

Saatnya bila bermula, sebuah kisah yang tertambat di meja
Ada baris-baris ayat tidak kuduga menari dari bibir yang terbuka
Bicara-bicara misteri hidup, tentang nyawa yang diusung ke hujung dunia
Kalam yang tertulis di dada terbit menggumpal ke atmosfera

Kau juga masih begini, mengulit masa-masa kita dengan sebuah senyuman manis,
Sambil tanganmu menggenggam pena, menulis kisah kita dengan harapan yang menghiris
Aku juga masih mahu begini, meingimpi ada kita selamanya tanpa tangis,
Biar jemariku kejab memegang tanganmu atas meja, teruslah wahai engkau menulis.

Pulang juga kita suatu hari, dari lembah sang pencinta
Dalam detik terakhir mencari siapakah sebenarnya kita
Harapan yang tidak kesampaian antara kasihku kepadamu
Dan putusnya ilhammu untuk mengenal hatiku.

05 September 2016

Warkah untuk Keon di atas Sebuah Gunung

Keon, jikalau kau berdiri di sampingku menjadi pembelah angin di puncak ini
Pastinya juga kau akan mengerti
Mengapa aku di sini, membawa diri

Gunung yang diam ini, punya seribu bahasa lebih rumit dari lidah manusia

Keon, gunung ini lebih lewat dari kita. Betapa bodoh kukira, manusia memikir ia telah menakluknya hanya dengan menginjak wajahnya, walhal gunung ini tetap juga tegar. Malah lebih hidup, saat kita musnah nanti ia juga masih berdiri, menunggu ajalnya sendiri hanya bila berakhirnya waktu. Nah, manusia mana yang menakluknya sedang gunung itu sendiri telah menakluk keberadaan, menakluk keabadian, menakluk kesabaran berdiri berjuta tahun lamanya di pasak bumi. Sedang manusia yang pernah menakluknya itu terlalu muda, malah betapa hayatnya dirangkum oleh celah-celah hayat gunung itu sendiri.

Keon, aku memanjat gunung ini sambil menunggu khabar darimu, jikalau angin dari kota selatan sempat singgah ke banjaran ini. Kau diselimuti putih pakaianmu sebagai doktor pelatih yang baharu, sedang aku diselimut kabus putih tebal di tinggi awan sebagai seorang pendaki yang baharu. Tanggal merdeka ini kita sama mendaki puncak baru dalam kehidupan, walau berbeza pengertiannya buat kita. Waktu pagimu kau bertemu dingin dalam kepekatan hidup di kota, aku bertemu dingin dalam ranjau dan onak di celah belantara. Ini merdeka kita, Keon.

Keon, jikalau kau boleh merasa apa yang kurasa, tunduk kepada takdir Sang Pencipta, maka tentulah kau akan merasa bahawa cinta telah membawa aku betapa jauhnya. Dalam dada ini Keon, lukanya lebih banyak dari luka yang terzahir di jasad yang menyimpannya. Jika boleh kubelah dadaku untuk kau melihat, bahkan yang hanya dapat kau saksikan cumalah kesakitanku. Bahkan Keon, kau jauh lebih mengerti dariku.

Aku merasa cintaNya saat aku berdiri di puncak ini, Keon. Kasih sayangNya dalam dedaunan hijau, dalam batu-batuan gunung, dalam kabus yang meliputiku, dalam lintasan cahaya dari langit angkasa. Betapa aku merasa kerdil di hamparan gunung, terasa seluruh kewujudanku dan hayatku hanyalah sebuah titik dalam lautan biru yang tidak berdasar. Aku malu Keon, kepadaNya. Sedang hatiku masih butuhkan cinta kepada manusia, Dia memberikanku cinta. Ketika jiwaku perlukan kasih, Dia menyelimutiku dengan kasihNya. Ketika sanubariku ingin disayangi, Dia menyayangiku. Dia mengizinkan aku berdiri di persadanya, memberiku merasa setitis nikmat melihat limpahanNya.

Keon, aku mendaki demi cintaku.

Keon, gunung ini sama seperti orang-orang yang kau pernah cintai. Zalim dan membeku, bukan untuk kau miliki. Kau boleh saja mampir dan hadir, tetapi kau akan pulang kembali tanpa dapat kau milikinya walau seinci. Tapi saatnya kau hadir, ia akan mengajarmu Keon, dengan kedinginannya yang kejam, tentang kehidupan. Betapa tinggi sekalipun kehidupan ini kau daki, bukan semua bakal jadi milikmu.

Keon, ini sebuah janjiku kepadamu, dan aku menulis kepadamu untuk melunaskan janjiku. Warkah ini aku sudahi dengan ucapan salamku dari puncak gunung ini. Semoga kau dapat mengerti walau sedikit isi hatiku, supaya dalam kehidupan nanti, aku boleh mengajarkanmu apa yang kupelajari lewat persinggahan ini. Sahabatku Keon, semoga hatimu setegar gunung, dan semoga kau senantiasa bertemu bahagia.

23 August 2016

Awan dan Hujan

Ada harinya juga aku tidak mampu berdiri
Menggasak asa, melintang patah
Abu kulakari, dari kabus debu dan ari
Mendiamkan lidah dari bicara petah.

Datang juga kabus pada petang-petang dingin
Aku menembus kenyataan dengan kejujuran
Tanpa disangkal oleh mistikus kata, perang-perang ingin
Hatiku ingin merangkul merdeka, menemu lidahmu dengan pedang-pedang eceran

Kaukah yang tersipu disinggung pendeta
Menanggung cinta dari tenggolok yang tidak pernah terisi,
Manakan mampu bersisa
Wahai alangkah sunyi.

Kita sebuah kisah sepi pada buku-buku yang pernah kubaca,
Dan kisah rindu yang kau selalu khabarkan padaku
Kau awan dan aku hujan
Kau wujud hanya untuk melihatku gugur

Pernahkah bila kita membentang kalam
Menatap langit dengan geruh halilintar
Bersedia untuk melepaskan, jikalau datangnya malam
Dan detik akhirnya mengucap selamat tinggal tanpa gentar.

Ah, rindu.



09 August 2016

DWI PUNCAK


I

Renung, Kenderong
Intai, Kerunai

Dalam puncak setinggi dada langit, kita mencurah titis keringat, menabur debu-debu emosi pada tapak-tapak langkah tinggal di batu-batu putih yang merekah, mengosong hati dari merasa – tinggi mencapah ke tingkat tinggi awan gemawan. Langkah kita, sederap demi sederap. 

Selimut putih membalut tubuh kita, melindap sekadar rasa yang makin mati, ingin terus mendaki. Dingin dan beku, dalam matamu kutemu kehangatan yang dicairkan sebuah ikatan yang belum dilentur waktu

Angin itu, Tuhan
Jikalau persis sepertinya bertiup ingin menghembus padam api asmara dalam dadaku, aku sulutkan seribu lagi pelita menjulang-julang panas waima ke puncak ketujuh syurga sekalipun

Panas itu, Tuhan 
Jikalau membakar dadaku sehingga tinggal tulang sulbi, debu-debu bertiup akan kusembur tinggi, buat pengganti ragaku mendaki

II
Syurga apa yang kau cari di atas kayangan? Bahkan jalannya berkerikil, membakar dari tumit ke pembuluh darah
 
Cerita apa yang kau tuliskan di atas perenggan? Bahkan penanya menangis, mencakar ulu hati dengan seribu amarah

Ini, bukan lagi soal maruah dan bukti. Ini adalah keakuanku, kepada pangkuanNya di puncak dunia aku menagih rasa aku sebagai hamba kepada Maha Pencipta, meraih kasihNya di gumpalan awan, menagih hina ilhamNya buat kutitipkan coretan

III
Saatnya aku kembali, air mata yang menitis kugauli dengan benih-benih hujan, biar turunnya menyuburkan bumi gersang, hutan yang terbakar di sisi Kenderong

Darah yang menitis dari deritaku biarkan memerahkan jalan-jalan ke Kerunai, menjadi penanda untuk pengembara yang hatinya pernah diluka cinta

Kau, pemilik kemuliaan. Aku telah bertamu di persadamu, merasa cintamu. Dan kini aku kembali ke kaki langit sebagai aku yang baru.












22 July 2016

Kepada Penerima Surat Yang Tidak Kunjung Sampai


Dari satu aksara, aku menjalin menjadi suatu ayat, ke sebuah lembaran
Mengunjungimu, harapku
Masihkah kau di sana, berdiri, mengenangku
Atau pinggir dalam lubuk yang terdalam, menekan rahsia kita kelemasan

Ingatkah kau apabila cahaya bulan menembus kaca, menari di atas kulit kita pada suatu malam yang permai
Aku baris-bariskan ayat ini supaya aku tidak akan lupa.

Apabila kau membaca isi surat ini yang tidak kunjung tiba,
Adakah sampai maksud hatiku ketika aku menulisnya kepada dadamu yang sedang membaca
Adakah air mataku yang hinggap pada cebisan kertas kumal masih basah tatkala kau menatap bait-baitnya, atau air matamu sendiri menitis ke tempat keringnya air mataku

Apakah bakal sampai kepadamu khabar-khabar dari relung jiwa yang bergumpal resah, pada malam dingin menatap waktu, menanti pagi tiba dengan kerisauan, gusar
Kita pernah punya sejarah – tulisku kepadamu dengan pena biru.

Dan aku simbahkan tintaku dengan darah, tanda betapa segalanya bermakna walau terlalu kejam,
Dan aku tandatangani suratku dengan marah, kerana rindu itu terlalu buas untuk tunduk menjadi dendam.

Ketika tamatnya kau membaca, baru kau sedari. Bahawa surat ini tidak pernah akan kunjung sampainya ke alamatmu di jemari. Kau terlalu mengerti untuk kutuliskan sebuah lagi sengketa dalam warkah, menghantar kita sekali lagi dalam kelahi.

 


13 May 2016

SEMPURNA

Aku pernah terfikir kau tidak akan kembali. Ketika kita berjalan melewati landasan keretapi seperti selalunya untuk pulang, kau dan aku sama melihat ufuk barat, cahaya jingga di hujung horizon, penamat pertemuan kita.

Kau memegang bahuku erat, seakan melindungiku, melewati landasan, jambatan di sebatang sungai dan terus sepanjang kehidupanku, sementelah mata kita masih tetap menentang jingga di sebalik mega. 

Ketika malam terakhir kita bersama, di tengah belantara, masih dalam atmosfera cahaya jingga – kali ini di depan unggunan api. Kau menyelimutiku, melindungi tubuhku dari kedinginan. Telah berkelana kita mencari makna-makna perasaan dalam hati, dan kita fikir, setiap langkah kita menapak atas dunia mendekatkan lagi kita dengan jawapannya. 

Kau selalu begitu – senyum halus sendiri. Sedang aku riuh dengan tawaku. Kita selesa dengan sunyi ketika kita bersama, dan melodi yang mententeramkan akan muncul dalam kesunyian yang nyaman. Aku tidak pernah tahu begitu senangnya perasaanku ketika diam bersama orang yang kukasihi. 

Kita mendekat, menyerah hati dalam diam, dan kau menghulurkan perasaanmu kepadaku, dengan senyummu yang manis. Aku juga menyerahkan hatiku kepadamu, seluruhnya. Malam itu, bintang-bintang di langit berbicara kisah kita, bulan purnama saksi sengsara yang perlahan diganti bahagia, dan bayu yang berpuput melagukan hati kita. 

Aku terfikir kita akan selalu bersama, mengorak langkah satu dunia, membongkar sauh berlayar di samudera, menembusi celah-celah hutan belantara, dan mendaki gunung-gunung mencakar atmosfera.

Dan esok harinya kau pergi, hilang dibawa badai. Cahaya jingga berputar ke gelap yang mutlak, petang yang sedetik menjadi kelam malam. Aku segera menjadi dewasa dibalut hari-hari suram, tiada cahaya.

Aku terfikir kau tidak akan pernah kembali.

Ketika kau pulang, aku sudah terlalu tua ditelan usia. Aku hampir terlupa bahawa aku pernah merasa manisnya bahagia. Aku melihatmu kembali bagai pelangi di hujung horizon, dan kau tiba masih dengan senyuman halusmu. Pada hari kau kembali, baru aku mengerti ertinya tangisan gembira, ketika bibirku ketawa tetapi air mataku lencun membasahi pipi.  

Dan hari kau kembali, kau membawaku pergi. Terbang merentasi angin, meluncur pada udara terus ke bintang – syurga. Bila aku menutup mataku selamanya, aku telah pelajari erti mencinta, kehilangan, dan pertemuan semula. Aku rasa sempurna. 






11 May 2016

Samudera II


Olengan ombak, malam sepi dan deruan nafas,
Bintang-bintang di angkasa, dalam jejal-jejal indah dan tataan ribuan seni rias,

menyinar gelojak rasa yang terpendam lindap, ingin dilepas bebas 
Dan kau bersama aku, semakin mampir mendekat dalam gelora samudera yang tidak terbatas

Aku melihat syurga dalam matamu Tuan,
Dua butir kejora, menari dari limpahan kurnia kayangan
Membidik dadaku, kejam dan mengasyikkan
Seperti semilir berhembus halus, membawaku kepada kisah masa depan.

Gelora lautan, bersama badai dan cahaya simbah
Atau langit malam bagai lukisan syurgawi; indah
Di samudera ini Tuan, kau dan aku membentang kisah-kisah
Tentang harapan ke hujung dunia, dan cinta yang perlahan membunuh resah.


Bedaduz|11 Mei 2016| Masih hanyut dibuai gelora



08 May 2016

Bintang Merah

Bila bersamamu Tuan, gundah menjadi hanya aksara-aksara yang bertamu bagai olengan ombak yang bakal berlalu
Dalam denyut ombak kita temukan emosi, bersatu bagai pukulan gelombang mencumbu pantai
Dan aku, bila bersamamu, terang bintang merah di dada langit
Terasa seribu keindahan datang menjelma menjadi prosa-prosa,
Bicara cinta,
Dan tunduk maluku kepada alam dalam takjub yang menakluk.


Pagi tadi, sambil mentari menggaris wajah merah ke muka kita,
Kau menjadi keindahan dan cinta yang masih tertinggal setelah pagi tiba


Aku pingin bertamu kembali
Dalam lenamu yang indah
Dalam leluhur beribu zaman lamanya
Dalam kerdipan gigih menentang akan terik suria

Berperi-peri dalam pekat malam menyaksikan mimpi menjadi langit permata
Dan lautan luas terbentang menjadi saksi kepada pertemuan kita sewaktu fajar cuba memisah aku dan sinarmu.

Aku cinta kepadamu, wahai Tuan.




26 April 2016

Magis



Aku bukan gusar menatap mentari pada pantulan cermin rekah,


Malahan jejari yang meruncing pantas,


menyentuh hening beku embunan di tingkap kaca


langsung tidak meresap kedinginannya ke pangkal hati.






Tahukah kau, di mana letaknya emosi


Jikalau yang kugarap dalam hujung asa, dibawa suram langit kesebelas pada bulan sabit merah di tingkat tinggi lapisan syurga


Menerawang dalam jalinan khusyuk, mata yang merenung tajam ke kolam suram rasa






Aku telah terpana, pada makna-makna hidup, erti menghayati, dan takdir menjalani


Jalan-jalan, liku-liku dan badai yang berlalu, berhembus kencang pada tegak diriku, mencabar tegap batang tubuh


Menyingkap lindap iri-iri pada wajah di muka pintu – senyuman yang laun menjadi racun.


Belum lagi aku mahu terkubur, belum pantas dibalut sengsara


Takkan tergugat oleh pencak ugut manusia.






Atas pentas, kau dan aku berdrama hebat, dari satu babak ke babak,


Bercakar, bertengkar, kelahi dan menyanyi


Menangis sedih, menagih perih


Puisi-puisi yang kita lagukan mengikut rentak pada lantai tari


Kau langsung menyentuh pipiku, lalu kita sama berteleku, mengalir air jernih


Dari pinggir mata, dan pinggir kehidupan yang membinasa






PESTA! Kemudian detak pecah bingitan menggegar


Layar dilayang sedang tabir dilungsur tutup


Manakah suara yang menikam kalbu selaju busur


Hilangkah cahaya – mata terkatup?






Dalam kamar kita mengalun derita-derita


Menjahit bayang-bayang di tembok kaca,


Ah bodoh kita, berperi-peri pada sketsa


Yang pada akhirnya kita juga yang berdosa.






Pulanglah, kemarilah kau.


Sejauh mana kau telah diuji,


Aku juga telah merasa peritnya dizalimi


Oleh takdir, oleh kisah luka


Dan cinta pertama.






Dalam kisah kita,


Yang aku tulis


Merentas masa


Kau satunya


Yang aku ada,


Sebuah magis.







19 April 2016

Cherry Cola



Secara rambang, bicara kita menyentuh balang-balang biskut, cola cherry, dan hal-hal rumahtangga


Kau dalam busana merah, dan aku berbaju hijau


Brief, fail dalam beg warna merah


Lipatan tangan, dan kertas-kertas, serta tisu basah






Setiap helai diselak, kau bentangkan sebuah daerah masa depan


Aku, lebih dari terhibur


Mencari peluang sekian lamanya bersua semula


Bibir yang dihias senyum menyentuh pinggir cawan, air Kickapoo






Kau mencari alasan untuk bertemu


Aku mendesak masa untuk mengizin kau bertamu


Nada suara kita, waktu itu


Menyimpan teriak emosi gembira masa dahulu






Apabila malam mula cemburu,


Kau permisi untuk pulang,


Membawa janji yang diikat waktu,


Dan kisah biskut dalam balang.







22 March 2016

Ke Hujung Dunia

Manakan lagi, arah kompas di hujung jarum
Kalau bukan ke utara
Telah kita tiba ke penjuru dunia mengejar impi dan cita,
Menakluk puncak di dalam mimpi, dan mata masih menancap di muka kompas, arah yang sama ke utara

Apakah lagi tuan, pertualangan kita
Daerah yang lain, musim yang lain, pakaian yang beda
Tapi pokok dan dasarnya
Masih juga kita

Arah kita tuju, telah dibuka atas seribu peta, melintas 5 garisan lintang dan 24 garisan masa
Maka di titik-titik rawak pelusuk dunia,
Kita belajar erti setia dan jujur, dan erti mencinta kepada hakiki, kepada rasa dalam dada, kepada halaman di hujung dunia

Berubahlah pantai-pantai diri dipukul zaman dan muka-muka, rasa terasing di pinggir budaya
Bersama tangan dipegang erat, membelah sejuta angin di depan mata, menari, meliuk, melentuk menjadi dedaunan, mengendali gemersik, bagai kelopak-kelopak mawar gugur dipukul gelombang udara

Kita menjadi kita, sama-sama mengubah dibentuk gelora
Dalam perjalanan sama kaki digerak, tangan dihayun, dan mata menjadi tajam, jiwa terang menyala – semangat zaman muda

Mana lagi bumi belum dipijak, katakan padaku
Hembus beku musim sejuk di hemisfera utara,
Embun dan kabus puncak gunung hutan khatulistiwa
Dan gurun-gurun bumi para anbia
Telah berkelana kita ke tiap-tiapnya.

Dan bila kita pulang semula ke bumi tercinta, pingin aku sekali
Bertemu apa yang telah kita tinggali
Dan bila mata bertemu dan senyum menyimpul

Dalam hati kita, telah kita temui, apa rasanya bersama-sama menakluk bumi.  


17 March 2016

Maafkan Aku, Teman


Benar, kata kau
Aku jahat

Aku malu, sungguh
Tika rekahan suria menyentak lena kita
Beradu damai seribu dekad lamanya dalam keinginan
Membasuh cinta dan mimpi pada hujung-hujung sepi yang membara; gila

Tiada apa aku, bila mengira
Gugur embun panas di telapak tangan, menimpa dari pinggir mata
Mengewap pergi mengikut udara, hembusan hawa jiwa
Tinggal lagi, sendiri berseorangan

Tiap kali juga begitu
Beralun, menghantar keluhan ke belakang
Dalam paginya dihambat kecewa ke hujung naluri
Sepi.

Maafkan aku, bila lagi
Aku mengutus khabar kepadamu
Meminta-minta untuk bertemu
Tunduk pada mahuku, sedang aku masih haru.

Dalam sepimu, aku selalu tahu
Keinginanmu untuk meninggalkanku

Aku selalu bermimpi tentang kita
Tentang syurga di atas dunia
Tentang kayangan puncak rasa
Tentang misteri dan suara-suara.

Tapi apa lagi yang kita ada, kalau yang pernah terungkap dan terbina,
Hanya sekadar kata.

Maafkan aku, teman.

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - https://t.co/quGl87I2PZ
Join Our Newsletter