01 July 2017

Idamanku





“Biarpun gunung telah kudaki, biarpun laut kurenangi.
Bila kubersendiri, hanya bayanganmu kunanti.”
- By'U, Kau Idamanku


This hits me hard. 10 gunung. 3 puncak elit G7. Langit biru, gunung yang mencakar angkasaraya. Dari hutan dipterocarp yang menyimpan khazanah  pepohonan kayu berakar tunjang kepada hutan Ericaceous pada aras 1500 meter dari paras laut yang ditumbuhi lumut dan periuk kera. 

Malam dingin bersalut suhu beku banjaran, dada langit yang dihiasi permata. Dari tebing curam merasakan angin berhembus memadamkan keinginan dan harapan. Kelana dari satu puncak gunung ke puncak yang lain merentasi rabung dan permatang, lembah di tebing sungai yang sunyi, dan hutan buluh yang berceracak dan tumbang secara rawak. 

“Not all who wander are lost.” 

Namun kita mengembara juga dalam belantara, untuk muncul semula kita harus pernah hilang. Dan saya kira, untuk memadamkan dia dalam ingatan juga saya harus hilang, meninggalkan kenangan pada setiap tapak langkah. Saya harus memasuki daerah hutan, mendaki gunung-gunung ini untuk menemui apa yang telah pergi dan untuk meninggalkan apa yang sudah tidak diingini; kekuatan dan memori.  

Lautan biru tempat bermain di gigi air, melihat hidupan akuatik menari di pinggiran sampan sewaktu bulan pernama mengambang. Dari kejauhan petir menyambar, bersama kerlipan api yang membelah kegelapan malam. 

Berhari-hari lamanya sewaktu mengembara, keindahan alam membuatkan kita lupa seketika. Bersama teman-teman yang menjadi saudara, sama beribukan pengalaman dan berbapakan kesukaran menempuh derita sehingga ke hujung denai belantara, bagai meniti syurga di atas dunia. 

Tapi bila kita pulang semula, sewaktu terfikir bahawasanya alam telah melahirkan kita dengan pemahaman yang baru, sewaktu melelapkan mata bayangnya juga yang kita nanti. Dalam kepala hanya memorinya yang meniti sel-sel neuron, hati berdegup kencang kembali dibakar mimpi. 

Biarpun beribu gunung didaki, tujuh lautan diselami, beribu batunya dijejak kaki, ternyata emosi itu terlalu berani dan mandiri di dalam hati. Sekerasnya kita melawan keinginan, sekerasnya juga keinginan membolak kembali. Kita senyum mencuka sendiri. Api asmara tidak mampu dipadam hembusan beku angin dari 7 puncak pergunungan, takkan bisa dipadam simbahan 7 lautan.

“Siangku semakin kelabu, malamku makin tak menentu,
Lidahku jadi kelu, hanya kau saja idamanku.”

Dia, takkan tahu.
Terima kasih untuk memori yang dipetik lagu, By'U.




No comments:
Write curses

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - https://t.co/quGl87I2PZ
Join Our Newsletter