24 January 2015

Dua Musim

Kali ke berapa entah, kita berbalah kembali.

Bercakaran pada kata yang semakin mati, hati yang semakin lali, jiwa yang semakin iri, kaki yang sudah tidak cekap berdiri.
Ada kalam yang pecah pada gentian titip rasa.
Putus pada ilham genta, melodinya seribu oktaf mendiam kepada bisu yang malap.

Malam-malam yang panjang, gelap yang belum mencumbu siang;
Kala itu yang menemu dalam dinding empat segi adalah udara hangat, kita dan sebuah dusta. 

Yang parah bila bersama hanya kita
Yang padah kalau kita berpisah tentunya kita

Pada malam kita bentang langit permata
Kita berbaring dalam perdu buluh
Menanti-nanti titiknya suria pagi mengganti bulan dalam rangkulan kasih

Bila terbit cahaya pagi
Mega berpuput malu
Membawa semusim sengsara dan derita yang tentu juga mencengkam kita, masih

Aku masih tersipu bila kita bertemu, disemukan merah oleh cerita yang lalu
Malu – bukan selalu dada dingilu haru.

Biarkan dingin membeku emosi yang celaru
Biarkan api mendebu mimpi yang palsu

Tulus hati itu dikumat sesuatu yang biru
Dan kemahuan jiwa itu bukan sesuatu yang baru

Bila masanya saat untuk berhenti bermimpi, kita telah pertama-tama sekalinya mengerti  

Bedaduz,
Serdang







No comments:
Write curses

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - https://t.co/quGl87I2PZ
Join Our Newsletter